Seperti tahun-tahun sebelumnya ada aktivitas rutin menjelang lebaran : Kemas-kemas. Lho kok kemas-kemas? ya hari ini banyak yang sudah mulai libur atau cuti lebaran. Sebagian besar sudah mulai kemas-kemas, nata baju, nata oleh-oleh atau nata kamar yang mau ditinggal mudik lebaran. Budaya yang sudah mengakar di masyarakat kita. Saya pun demikian, sambil nata baju, kaos, celana pelan-pelan saya masukkan koper buat persiapan mudik. Saat itu ada terlintas pikiran menerawang kenangan tentang baju, kaos, celana dan lain-lain. Lalu saya jadi ingat dengan suatu fondasi hidup orang Jawa : *Nguwongke*.
Secara harfiah, *Nguwongke* itu artinya memanusiakan manusia. Tapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar sopan santun. Ini soal bagaimana kita memberi ruang bagi orang lain untuk merasa "ada" dan dihargai. Di zaman serba 'gadget' ini, kadang kita terlalu sibuk dengan urusan WA, IG atau tiktok yang kadang sampai lupa kalau orang di depan kita itu punya perasaan, bukan cuma sekadar objek atau pelengkap suasana. Kadang kita merasa cukup WA saja untuk berkirim kabar.
Coba kita menoleh ke belakang, ke zaman kerajaan. Ingat kisah Panembahan Senopati saat merintis Mataram? Beliau itu sosok yang sangat nguwongke* Meskipun seorang calon raja besar, beliau nggak segan untuk turun merangkul rakyat jelata. Ada satu falsafah yang dipegang teguh *Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake*. Menang tanpa merendahkan. Beliau memenangkan hati rakyat bukan dengan menunjukkan kekuasaan, tapi dengan merangkul mereka agar merasa dianggap. Itulah puncak dari *nguwongke*, di mana martabat orang lain dijunjung setinggi martabat diri sendiri.
Di bulan suci ini, mempraktekkan *nguwongke* itu nggak harus menunggu jadi orang besar. *Cukup langkah cilik bae*. Misal, saat kita memesan makanan untuk buka puasa lewat ojek online, kita sapa drivernya dengan ramah, kita ucapkan terima kasih dengan tulus. Lha wong sejatinya, martabat seseorang itu nggak dilihat dari tumpukan hartanya atau apa pekerjaannya, tapi dari bagaimana dia memanusiakan sesamanya. *Yen kowe pengen diajeni, ya kudu gelem ngajeni liyane.*
Penting juga diingat, *nguwongke* itu bukan soal seberapa mahal takjil yang kita beri atau berapa nilai nominal sedekah kita. Ini bukan soal angka atau harga, tapi soal *perhatian dan ketulusan*. Memberi seteguk air dengan senyuman tulus itu jauh lebih tinggi nilainya daripada memberi hidangan mewah tapi dengan sikap yang meremehkan. *Opo gunane menehi akeh yen atine ngenyek?* Intinya adalah pengakuan bahwa orang di depan kita itu berharga.
Kita kan sudah sangat hapal hadits Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (*khoirunnas anfa’uhum linnas*). Dale Carnagie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People juga mengajarkan bahwa penghargaan yang tulus adalah "bahan bakar" jiwa manusia. Jadi, nguwongke sebenarnya adalah seni kepemimpinan dan etika tingkat tinggi yang diakui dunia, di mana kita memandang orang lain dengan mata batin, bukan dengan kalkulator materi.
Sambil menutup koper saya kembali menerawang jauh apakah saya sudah *nguwongke* orang-orang di sekitar kita? Tanpa mengurangi niat untuk nguwongke maka saya mengakui sebagai manusia adalah tempat lupa dan salah. Bukan sengaja tidak nguwongke, tapi barangkali kelemahan saya belum bisa menjangkau semua kerabat. Tetapi setidaknya doa-doa saya untuk semua kawan kerabat dan keluarga besar sebagai ungkapan rasa nguwongke panjenengan semua, Karena saya yakin saat kita memanusiakan orang lain, sebenarnya kita sedang memanusiakan diri sendiri di hadapan Sang Pencipta. Selamat Mudik, Selamat Lebaran dengan keluarga tercinta. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Wallahu a'lam bishshowab. _Pemalang, Akhir Ramadhan 1447 H_
Renungan
Nguwongke: Bukan Soal Harga, Tapi Soal Rasa
Terbaru di Renungan
Lihat semua →