Bulan setengah bulat menelusup ke dalam gerumbulan awan putih. Menyemburat suar cahaya redup di luasan cakrawala.
Simpony nyanyi jangkrik berdenyit nyaring dari selokan depan deretan kamar-kamar kost yang dihuni para karyawan pabrik sebuah kawasan industri di barat kota Karawang. Suaranya jernih, di malam yang lengang.
Hawa dingin dan basah di akhir bulan Desember, akan membuat orang-orang berasa lebih nyaman rebahan, sambil scroll-an layar gawai atau tidur lesah lelah setelah berkegiatan, bekerja seharian. Memenuhi kewajiban-kewajiban. Sebagai ayah. Sebagai ibu. Sebagai anak.
Amri masih duduk di kursi kamar kostnya. Matanya masih menatap layar gawai. Di kedua telinganya terpasang headphone. Jemarinya menekan tombol sisi kanan, sedikit membesarkan volume suaranya. Wajahnya meremang muram. Matanya bersaput kabut kesedihan dalam rindu. Air mata perlahan meleleh di kedua sudut mata mudanya. Tangisnya hampir pecah.
Beberapa Voice Note singkat dari ibunya. Ia akan putar berkali-kali. Saat kepalanya sedang riuh oleh beban pekerjaan. Masalah hidup yang sedang silih berkelindan. Seakan dada terdedah. Saat itulah, jiwanya sangat merindukan ibu. Mendengar suaranya, terasa cukup mengobati lara. Gairah hidup terlecut kembali.
" Sudah tiga bulan...kamu tak pulang, Nak.
Kamu tak merindukan masakan Ibu, ya?"
Masakan ibunya seperti bebek rica-rica, atau tempe kukus ukuran dadu berbalur parutan kelapa, sangat sedap di lidahnya. Dan tentu yang utama, kasih sayang ibunya. Itu semua menambah semangatnya untuk segera pulang.
Maka di hari libur kerja berikutnya, ia memesan tiket KA Karawang -Pemalang. Pulang. Seraya bergegas menuju stasiun ia berdendang lirih lagu Franky & Jane: _Dengan kereta malam kupulang sendiri/mengikuti rasa rindu/pada kampung halamanku/pada ayah yang menunggu/pada ibu yang mengasihi..._
Biasanya ia menaiki KA Jayabaya jurusan Jakarta-Malang, atau KA Tawang Jaya. Perjalanan dari stasiun Karawang sampai Pemalang akan memakan waktu 3 jam 33 menit.
Lain waktu ibunya berkirim pesan suara lagi, ketika sudah empat bulan belum menyempatkan pulang juga,
"Nak,...masih ingat jalan pulang ke rumahmu kan?" Maka dia akan melihat kalender di meja, kapan terakhir bertemu ibunya di di kampung halamannya, Pemalang. Dia tersadar, pantas ibunya mengingatkannya untuk pulang.
Ibunya jarang berkirim WA. Jika berkirim pun pasti bukan dengan pesan teks, tapi pesan suara. Dan isinya tentang merajuk dirinya secara halus untuk menyempatkan pulang : kerumah masa kecilnya. Rumah penuh haru biru kenangan indah dan duka. Bertemu ibu dan bapak, juga Sari, adiknya yang masih sekolah di bangku SMA.
Dua tahun lalu, saat tubuh masih merebah lelah di kamar kost.nya. Ada pesan suara ibu masuk. Suaranya terdengar agak serak dan sedikit bergetar:
โNakโฆ besok lusa jadi pulang kan? Hati-hati di jalan, ya โ
Mendengar pesan suara ibunya kali ini, entah seperti ada tarikan halus di perasaanya. Rasa sedih yang menyesak di dadanya. Ada yang membuatnya tiba-tiba tidak nyaman, khawatir dan ingin segera berjumpa ibunya. Mencium punggung tangannya, dan memeluknya penuh haru cinta.
Apakah itu firasat hati orang yang terhubung dengan jiwa yang sangat dicintainya? Ternyata itu tak pernah luput. Di perjalanan pulang saat masih berada di KA, adiknya berkabar duka yang tiba-tiba, jika ibunya telah meninggal. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI'UN. Ibunya terpeleset di halaman berlumut yang licin oleh air hujan. Jatuh, kepalanya membentur batu. Tak sadarkan diri. Koma hingga meninggal.
_Allahummaghfirlaha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha..._
Sepeninggal ibunya, kadang saat malam, ketika ada beban yang seakan tak sanggup dipikul; dan perasaan yang menyesak di dada, ia akan memutar semua pesan suara ibunya.
๐๐๐ง๐ฒ๐ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐๐ง๐๐๐ง๐ ๐๐ซ ๐ฌ๐๐ฌ๐๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐ง๐ ๐ ๐ข๐ฅ๐ง๐ฒ๐ โ๐๐๐คโ.
๐๐๐ง๐ฒ๐ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐๐ง๐๐๐ง๐ ๐๐ซ ๐ฌ๐ฎ๐๐ซ๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฉ๐๐ฅ๐ข๐ง๐ ๐ง๐ฒ๐๐ฆ๐๐ง ๐๐ข๐๐๐ง๐ ๐๐ซ : ๐ฌ๐๐ฃ๐๐ค ๐ฌ๐๐๐ญ ๐๐๐ฒ๐ข, ๐ฆ๐๐ฌ๐ ๐ค๐๐ง๐๐ค ๐๐๐ง ๐๐ข ๐ฌ๐๐ฅ๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ก ๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐ง๐ฒ๐.
Juga untuk mengingat, bahwa dulu ia pernah dicintai begitu dalam, pernah punya tempat pulang sesungguhnya : IBU.
Matanya sembab, pipinya basah. Ingus bening pun keluar dari hidungnya. Dan tangis pun pecah tak bisa ia bendung.
Dadanya sesak oleh rindu dendam: pada IBU yang selalu mengasihi dalam marah dan diamnya.
Di luar kamar kostnya, hujan mulai menderai.
Lampu di beranda dikitari puluhan laron, dengan kepak sayap mungil yang melambai-lambai.
D'Latif
๐ฟKarawang, 031225
Inspirasi
๐ฉ๐ผ๐ถ๐ฐ๐ฒ ๐ก๐ผ๐๐ฒ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ต๐ถ๐ฟ ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฏ๐
Terbaru di Inspirasi
Lihat semua โ
Pohon itu Tumbang
20 Apr 2026
ยท 34x
Istana Cahaya untuk Mas Khum
17 Apr 2026
ยท 65x
Warisan Sujud Makdhe
15 Apr 2026
ยท 528x
โ๏ธKenangan : Sepeda Jengki Tua
19 Mar 2026
ยท 145x
Aku Bukan GURU, Hanya TEMAN BERMAIN
28 Feb 2026
ยท 49x
Melacak Jejak Kerinduan
26 Feb 2026
ยท 98x
๐ช๐ฎ๐ป๐ถ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ ๐๐บ๐ฏ๐๐ป ๐ฃ๐ฎ๐ด๐ถ
21 Feb 2026
ยท 602x