ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

๐—ช๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—˜๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—ด๐—ถ

๐—ช๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—˜๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—ด๐—ถ

Seekor Belalang Sembah muda, terhanyut di tepian Kali Citarum. Kakinya yang panjang bergerigi menggapai-gapai rumput teki liar yang menjulur ke arus air. Happ...berhasil. Menarik tubuhnya yang ringan ke hamparan luas bantaran. Kepalanya yang berbentuk kapsul menengok kiri kanan, sigap berlari menaiki pohon Bakung, berdiam diri sejenak di balik daunnya yang hijau lebar. 

Musim masih menderai. Angin menyerubut lerai. Langit senja akhir Desember menaburkan gerimis. Menahan geriap cahaya yang memantul di permukaan kali yang berhulu di Situ Cisanti kaki Gunung Wayang. Mengalir jauh melewati Bandung, Purwakarta, Karawang dan berakhir di Muara Gembong, Bekasi.

Di beranda rumah, Kang Madi menatap jalan yang basah oleh waktu dan kenangan. Rumah yang berjarak lima belas kilometer di sebelah timur Kota Karawang.

Akhir tahun selalu membawakan dua baki hidangan dimeja perasaanya : harapan yang ingin direngkuh dan kenangan yang tlah luruh.

Di usia jelang empat puluh, tak lagi banyak harapan yang mengitari kepalanya. Bahkan tak ada keinginan besar apapun. Hanya harapan-harapan seadanya, meretasi jalan hidup senyampainya. Hingga Sang Pencipta _mundhut_ , memanggilnya.

"Usiamu masih muda Kang, masih banyak yang bisa diperjuangkan. Nafasmu masih panjang " lirih Pak Nawi tetangga sedesa, saat mampir ke rumahnya yang terpencil di pinggiran hampar luas persawahan.

"Iya, Pak. Tetapi rasanya terlalu banyak kenangan yang telah memenuhi ruang ingatanku. Kenangan pada istriku, Lasmi. Dia wanita berhati embun pagi. Kata-kata yang dibincangkan slalu tenang, dan dipikir matang. Mengalir jernih tanpa tekanan dan prasangka " 
" Iya paham, memang tak mudah melupa, pada jiwa yang tlah lama bersama. Seiring seirama  dalam suka duka. Melarung manis pahit kehidupan berdua. Saya mengerti, saya sangat memahami, Kang"
Kang Madi mengulas senyum sekilas. Menatap Pak Nawi. Beralih melihat jalan dan hujan yang tlah henti lerap. Senja kian senyap.
Setahun ini Pak Nawi sering mampir ke rumahnya. Terutama saat libur kerja. Musim tanam ini, sawah sepetaknya tak disewakan, di garapnya sendiri. Beberapa tahun lagi, Pak Nawi memasuki masa purnabakti dari pabrik tempatnya bekerja. Ingin terbiasa kembali menghirup bau lumpur dan mengayun cangkul, seperti saat mudanya.

"Mangga Pak...diminum kopinya. Singkong rebusnya juga masih hangat, baru kuangkat"
Sedikit tergagap namun tak ada rasa cangung, Pak Nawi mengangkat gelas kopinya. Uap masih mengepul. Aromanya selalu menjadi candu. Mata Pak Nawi sesaat terpejam, ingin menghirup wanginya sepenuh rasa. Menarik wangi itu, ke sublim yang menghanyutkan rasa tenang yang dalam.
Aroma kopi hangat, bau hujan yang dibawa angin ke beranda. Menurapkan senja yang sempurna. Sementara dua orang pria berdiam, tengah mensyukuri karunia yang di hembuskan Tuhan.

Lasmi, istri Kang Madi didiagnosa Kanker Serviks stadium lanjut, enam tahun lalu. Kanker menyerang leher rahimnya. Diagnosa itu disampaikan dokter Galih di sebuah rumah sakit kota, setelah rangkaian skrining Pap Smear untuk mengecek sel abnormal dan tes HPV untuk mendeteksi virus penyebab kankernya.
Kang Madi membawa istrinya ke rumah sakit, karena tubuhnya waktu itu sangat lemah, kakinya terlihat bengkak dan mengeluh nyeri semua. Saat ke kamar mandi, kencingnya juga bercampur merah darah. 

Dua tahun lalu, di akhir tahun seperti ini, di tempat tidur Lasmi menggenggam tangan Kang Madi. Genggamannya lemah, jemarinya gemetar.
" Seringkali aku takut, suatu hari aku lupa kita pernah bersama. Aku takut sendiri. Aku takut pada sunyi. Sunyi tanpamu lagi, Kang" 
Kang Madi hendak menyambutnya dalam bisik barisan kata-kata. Semua akan baik-baik saja, Lasmi akan sehat seperti sedia kala. Tapi kalimat itu tertelan kelu dan sedih yang menekan. Hanya genggaman yang menguat pada tangan istrinya. Tangan yang telah melayaninya dengan ringan selama pernikahan lima belas tahunan. Tangan yang cekatan menyelesaikan pekerjaan rumah keseharian. Tanpa keluhan. 

Meski tangan lembut itu, belum pernah menyerahkan bayi mungil kepangkuannya. 
Hampir. Sesungguhnya, hampir pernah. Namun  Tuhan belum mempercayakan mereka bayi mungil untuk dijadikan momongan, penerus garis keturunan. Karena istrinya mengalami keguguran, saat usia kandungan berusia empat bulan. 

Beberapa hari sejak genggaman tangan yang gemetar itu, Lasmi di- _pundhut_ Sang Pemilik Kehidupan. Dipanggil pulang beberapa menit sebelum orang-orang menyobek lembaran kalender bulanan, bulan yang terakhir.

Di awal-awal kepergian Lasmi, Kang Madi sering duduk di beranda. Di bangku kayu, dimana biasanya dia dan istrinya meluangkan senja. Menikmati kopi, gorengan pisang atau beberapa potong singkong rebusan. Meneguk kopinya perlahan, tegukan demi tegukan ditiap jeda perbincangan. 

Tak seperti Lasmi. Lasmi yang selalu langsung tandas mengosongkan gelas kopinya. Meneguknya sekali, hingga habis tak bersisa. 
"Biar pahitnya tak terasa"  begitu ucapnya setiap habis meneguk kopinya. Tawa kecilnya kemudian lepas.
" Tapi pahit kopi, tak sepahit jamu brotowali, bukan...?"  sergah Kang Madi bercanda, meski hatinya mengakui selera setiap orang berbeda macam. Terserah saja bagaimana cara menikmatnya.
"Sejatinya, justru pahitnya yang sekilas, yang membuatnya nikmat. Dan mumpung masih panas, hawa panas yang menyempurnakan rasanya" tukas Lasmi mencoba menjelaskan kalimat sebelumnya.
" Ya..ya...karena kopi yang dingin, nikmatnya akan berkurang, rasa nikmatnya direnggut angin. Aku juga merasainya" Kang Madi mengangguk sepemahaman.

Nyatanya kepergian Lasmi, bukan hanya kehilangan ritual minum kopi bersama di beranda saat senja. Tapi juga kehilangan harum masakan dari arah dapur rumah. Kehilangan suara mengaji kala maghrib tiba. Kehilangan rangkain do'a yang biasa dilantunkan berdua. Kehilangan teman bercanda,... dan seluruhnya

Bulan tanggal tua _ngungun_ samar tersaput awan. Terompet pergantian tahun yang biasa ditiup anak muda dari arah jalan belum terdengar. Kembang api juga masih tersimpan, belum dinyalakan. Belum diluncurkan ke langit malam.

Di ruang tengah hati Pak Madi gemuruh. Membuka jendela, membiarkan udara masuk, seakan berharap kehadiran Lasmi yang ikut menyelinap, bersama isis angin lengang.

" Tuhan tidak pernah mengambil tanpa meninggalkan sesuatu. Entah itu kesabaran, atau cara baru untuk memaknai rindu" 
Mata Kang Madi memejam, menarik nafas pelan. Merasai udara yang dihirup itu masuk ke ruang paru-parunya. Teringat ucapan Pak Puspito, teman diskusinya di dunia maya.
" Pergi bukan meninggalkan. Karena jejaknya telah kekal, kenangannya menetap tinggal. Tiap detik, tiap waktu, menemani langkah kita didunia. Hingga pada waktunya, kan bersama jua di kehidupan abadi, setelah alam fana" lanjut Pak Puspito.

Kembang api akhirnya menyerbu langit. Suaranya berdentam, cahayanya menyuar terang di empat penjuru malam. Sahut menyahut. Dentam berdentam. 
Di beranda, Kang Madi memegang tiang, tubuhnya hening, dan diam.

*D'Latief*
๐ŸŒฟKarawang, Akhir 2025

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua โ†’
Pohon itu Tumbang
Pohon itu Tumbang
20 Apr 2026 ยท 34x
Istana Cahaya untuk Mas Khum
Istana Cahaya untuk Mas Khum
17 Apr 2026 ยท 65x
Warisan Sujud Makdhe
Warisan Sujud Makdhe
15 Apr 2026 ยท 528x
โœ๏ธKenangan : Sepeda Jengki Tua
โœ๏ธKenangan : Sepeda Jengki Tua
19 Mar 2026 ยท 145x
Aku Bukan GURU, Hanya TEMAN BERMAIN
Aku Bukan GURU, Hanya TEMAN BERMAIN
28 Feb 2026 ยท 49x
Melacak Jejak Kerinduan
Melacak Jejak Kerinduan
26 Feb 2026 ยท 99x
๐—ฉ๐—ผ๐—ถ๐—ฐ๐—ฒ ๐—ก๐—ผ๐˜๐—ฒ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—œ๐—ฏ๐˜‚
๐—ฉ๐—ผ๐—ถ๐—ฐ๐—ฒ ๐—ก๐—ผ๐˜๐—ฒ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ ๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—œ๐—ฏ๐˜‚
26 Feb 2026 ยท 219x