Wahai lidah,
kau racun dan madu
di mulutku yang culun.
Jika kau jadi racun,
kau bisa jadi pembunuh—
hati dan jasadku beruntun.
Imam Syafi’i berpesan pilu di hatiku:
“Lidahmu jangan kamu biarkan
menyebut kekurangan orang lain,
sebab kamu pun punya kekurangan.”
Dalam mimpiku,
kulihat kursi-kursi itu—
hitam, api tanpa cahaya,
ruang mencekam dalam gulita;
penceramah beracun
hangus kursinya.
Aku terdiam,
tapi takkan sama dalam bertindak laku.
Balas api dengan air,
bukan bara keluh sembilu.
Pohon berbuah
jamak dilempar batu.
Tapi kenapa kau lempar batu
ke saudaramu?
Bukankah kita satu tanah,
satu rindu
pada Tuhan yang sama,
meski beda ilmu.
Kapling surga
tiada di balik pintu rumahmu.
Kuncinya tiada padamu,
tiada pula padaku.
Ia ada pada Tuhanku dan Tuhanmu:
“Laa Ilaaha illaLlah.”
Imam Syafi’i saja malu mengaku:
“Benarku bisa salah,
salahnya orang bisa benar,”
ilmu tinggi dia begitu.
Ini jihad bukan dengan pedang,
tapi menahan lisan
di ujung pena perang.
Saat olok-olok datang menyerang,
kita balas tulisan,
bukan keliwang tukang.
Ghirah ini api—biarlah putih,
menerangi jalan,
bukan bikin perih pedih.
Yang dusta biar,
kita tabayyun jernih.
Yang takfiri biar,
kita doa'i lebih.
Lembut kata bisa membuka
pintu jeruji besi.
Mengapa memilih kata kasar basi?
Wahai Tuhan,
jadikan kami air mata air,
bukan baja besi.
D'Latief