ruangpakar.com
Analisa Tajam, Inspirasi Kehidupan
Inspirasi

Taubatnya Sang Ustadz

Taubatnya Sang Ustadz

Ruangan itu seharusnya menjadi tempat di mana kata-kata suci berkumandang. Namun,  pagi ini, kesunyiannya terasa berat. Di tengah masjid yang luas, barisan kursi mimbar kayu jati—tempat para asatidz biasa duduk tegak menyampaikan risalah—mulai dijilati lidah api.
Akan tetapi, ini bukan api biasa. Tak ada rona jingga atau merah yang hangat. Yang merayap di sana adalah api hitam. Sebuah kegelapan berlidah, yang bergerak-gerak seperti ribuan serangga bayangan. Ia tak bercahaya; justru setiap kali lidahnya menyentuh sandaran kursi, warna ruangan di sekitarnya tersedot habis. Ruangan itu tidak menjadi terang karena kebakaran, melainkan kian legam mencekam, bersisip warna abu kelam yang melayang pelan seperti salju di tengah gulita malam. Seolah-olah api itu bukannya menerangi, tapi justru menyedot tuntas cahaya di sekitarnya.
Ustadz Kolid berdiri terpaku di ambang pintu, membeku. Dia terbiasa bicara tentang ‘terang’ dan ‘gelap’, tentang ‘bid’ah’ dan ‘sunnah’ dalam ceramahnya, namun pemahamannya menurut versinya. Dia menganggap—bukan seolah-olah lagi—bahwa semua pemahaman di luar sana adalah sesat menyesatkan dan tempatnya di  neraka. Dia seperti tidak faham ilmu lisan.
Pemandangan di depannya yang seperti itu, menurut amatannya, melampaui segala batas logika dan dalil yang pernah dia hafal. Kursi-kursi itu hangus tanpa suara percikan kayu, hanya ada desis dingin yang ganjil. Abu yang jatuh ke lantai tidak terasa panas, tapi terasa seperti kekosongan yang absolut. “Api apakah ini...?” pekik batinnya. “Abu apakah ini...?”
Di sana, di barisan kursi-kursi itu, seolah seluruh ‘kebenaran’ yang pernah diprasasti di tempat itu, sedang digugat oleh api hitam dan kegelapan yang dia ciptakan sendiri. Api hitam itu bagai sedang memperingatkan dia yang getol dalam ‘pemurnian’ yang ekstrem dalam jubah kesombongan yang padat-keras. Ceramahnya tidak menghangatkan persaudaraan muslim, namun malah menghanguskan bahkan menghancurleburkannya tanpa bentuk.
Ustadz Kolid, setelah lama termenung dalam keterperanjatan, kemudian melangkah masuk. Kakinya tenggelam dalam hamparan abu kelam, bukannya permata. Itu terasa seperti lumpur hisap. Dari atas mimbar yang telah terbakar juga, barisan kursi itu tampak seperti fosil raksasa yang mengeram. Api hitam itu terus bergerak menjilat-jilat ke atas bagai hendak melahap atap. Di samping itu, ia juga merayap melingkar, mengunci setiap sandaran kursi dengan kepekatan yang absolut.
Dia teringat, betapa sering dia duduk di sana, di kursi paling tengah, melemparkan kata-kata tajam yang membelah dunia menjadi dua: “Kami yang benar, dan mereka yang sesat. Hanya kami yang akan masuk surga dan mereka masuk neraka.”  Namun kini, di hadapan api ini, lidahnya terasa kelu. Kebenaran yang selama ini dia pegang sekuat tali baja, mendadak terasa seringan abu yang melayang di ruangan itu.
"Ini bukan api neraka kan?" bisiknya gemetar. Suaranya tidak bergema, seolah dinding-dinding ruangan telah menjadi tuli. Namun dari atas terdengar bisikan, “Itu api neraka sedang membakar mimbar-mimbar ceramah kalian!”
Dia menyadari satu hal yang mengerikan di hatinya, “Ruangan ini tidak gelap karena lampu padam. Ruangan ini gelap karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela menolak untuk menyentuh apapun di dalamnya. Kebekuan cara berpemahaman dan berpikirnya selama bertahun-tahun telah menciptakan medan gravitasi sendiri—sebuah ruang hampa di mana tidak ada pendapat lain yang boleh bernapas. Dan kini, ruang hampa itu mulai memakan penciptanya, aku ini.”

Setiap butir abu yang hinggap di jubahnya membawa bisikan ribuan wajah yang pernah dia hakimi. Yang pernah dia vonis: “Kalian ahli bid’ah! Kalian Sesat! Kalian di neraka!” Wajah-wajah tanpa suara yang dia singkirkan dengan dalil-dalil tekstual yang tak menyisakan ruang bagi dialog atau kemanusiaan.
Sejarahnya, mereka dulu dari tanah Nejd memperluas pengaruh dan kekuasaannya dengan kuda, unta dan pedang. Mereka membantai, membuminguskan rakyat pemerintahan keturunan Nabi SAW: Raja Syarif Husein bin Ali di tanah Hijaz (Makkah, Madinah dan sekitarnya). Saat itu mereka sudah berkoalisi dengan pasukan kafir Inggris. Maka tidak heran sekarang mereka mesra dengan orang kafir AS daripada mesra dengan Iran, yang sesama muslim, namun dianggap kafir oleh rejim Saudi, yang notabene keturunan Yahudi imigranan dari Irak. Sedangkan pemimpin Iran notabene juga keturunan Nabi SAW. Anehnya, Ustadz Kolid menuduh, tepatnya memfitnah, pemimpin Iran sebagai keturuan Yahudi.
Sementara itu, tiba-tiba, kursi di depan Ustadz Kolid retak lalu ambruk. Bukan karena panas, tapi karena beban keangkuhan yang terlalu berat untuk dipikul oleh kayu manapun. Dari retakan itu, api hitam menyembur keluar, membentuk siluet dirinya sendiri yang sedang menunjuk-nunjuk orang-orang di luar dia. Di luar pengikutnya, dengan telunjuk yang membara kegelapan. Bukan membara merah. Sungguh bagai dunia gothik, serba hitam, serba gelap.
Ustadz Kolid beserta pengikutnya, menganggap hujatan, caci maki sebagai ta’dzir, sanksi-mendidik dan tugas suci agama. Termasuk menghindari bermajelis bareng dengan orang-orang yang mereka anggap ahli bid’ah, fasik dan musyrik. Bahkan suka memberi gelaran-gelaran buruk kepada ulama di luar mereka. Syaikh Yusuf al-Qardhawi, diplesetin jadi al-qirdu, monyet. Menuduh Dr. Sayyid Qutb, cendekiawan Mesir, sebagai  khawarij.
Ustadz Kolid mencoba beristighfar, namun lidahnya kelu. Di tengah barisan kursi yang sedang dikunyah api hitam itu, dia mulai mendengar suara yang paling dia benci: denting gamelan, musik.
Suaranya lirih, seolah muncul dari dalam tanah, namun menusuk telinga lebih tajam dari pekikan apa pun. Setiap kali nada slendro itu terdengar, api hitam di kursi mimbar melonjak lebih tinggi, menyebarkan bau kemenyan yang bercampur dengan bau kertas terbakar—kitab-kitab yang isinya pernah dia gunakan untuk menghakimi kearifan bangsanya sendiri sebagai kesesatan: haram. Dari arah lain, dia mendengar lantunan surat Yasin dan zikir tahlil serta salawat Nabi. Sangat nyaring bergema. Dia makin panik.
"Haram! Ini haram!" pekiknya penuh kemarahan, tapi suaranya tidak bisa keluar. “Ada apakah dengan diriku...?” batinnya dengan rasa cemas mendalam.
Namun, semakin keras dia berteriak menolak, semakin pekat kegelapan itu. DIa melihat bayangan di dinding: sosok-sosok berpakaian lurik dan kebaya yang perlahan tertimbun abu kelam dari mimbarnya. Mereka tidak melawan; mereka hanya diam, memudar menjadi debu, disapu oleh argumen-argumen kaku yang selama ini dia anggap sebagai pedang kebenaran: membela sunnah.
Puncaknya adalah saat dia melihat kursi utamanya—paling besar dan posisi tertinggi—mulai berubah bentuk. Kayunya yang lurus dan kaku perlahan meliuk, membentuk pola ukiran kuno yang dulu ia perintahkan untuk dihancurkan. Api hitam itu kini menjilat ujung jubahnya.

Lalu muncullah suara itu—suara dirinya sendiri dari rekaman ceramah masa lalu yang bergema di ruang hampa: "Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari mereka!"
Ironisnya, di ruangan itu, Ustadz Kolid sadar bahwa dia tak lagi menyerupai siapa pun. Tak menyerupi Arab atau Indonesia. Dia tidak menyerupai manusia, tidak pula cahaya. Dia telah menjadi monolit kegelapan yang kedinginan; membeku dalam mode pengafiran yang begitu ekstrem hingga akhirnya mengafirkan bayangannya sendiri. Di mata api hitam itu, bahkan diapun tidak ada cahayanya.
Sikap merasa paling berilmu, paling benar dan paling salih, bahkan paling berhak atas surga berubah menjadi wujud serba hitam dalam kegelapan. Tiada cahaya selentera sekalipun. Sementara ruangan yang gelap itu semakin sempit menghimpit. Dindingnya semakin mendesak dekat ke tubuhnya. Seakan mencerminkan pe,ikirannya yang sempit. Sering mengabaikan akal yang telah Allah anugerahkan kepadanya.
Dia terjebak di tengah mimbar, sementara kursi-kursi itu berubah menjadi barisan nisan tanpa nama. Terkubur dalam abu kelam yang dia ciptakan dari kebenciannya terhadap budaya dengan memakai dalil serampangan. Sesuai nafsu pemahamannya.
Dia berusaha mundur menuju pintu, namun kakinya seolah terpaku ke lantai. Di dalam kepalanya, dalil-dalil tentang al-wala' wal bara' (loyalitas dan berlepas diri) berputar-putar seperti badai. dia teringat betapa bangganya dia dulu saat menolak jabat tangan dan beruluk salam dengan tetangga. Atau betapa kerasnya dia melarang jamaahnya duduk semajelis dengan mereka yang dia labeli ‘ahli bid’ah’. Tapi di sisi lain, suka bermajelis bersama dengan rejim-rejim zalim. Bahkan dengan rejim-rejim kafir.
Kiini, di ruangan yang terbakar api hitam itu, dia mendapatkan apa yang selama ini dia serukan. Disini dia diisolasi total. Seakan Allah memperingatkannya tentang menerapkan konsep al wala’ wal bara’ dengan benar. Tidak menyelisishi lisannya. Dia merintih lirih, “Ya Allah, selama ini kami sering melakukan hal kontradiksional dan inkonsisten dengan lisan, manhaj dakwah kami.”
Api hitam itu kemudian menciptakan sekat-sekat hampa di antara kursi mimbar. Dia ingin berteriak meminta tolong, namun dia sadar, dia malu—berdasarkan keyakinan yang dia buat sendiri di dalam otaknya—tidak ada satu pun manusia di luar sana yang lebih salih dan lebih lurus darinya dan pengikutnya.  “Tdak mungkin mereka masuk ke ruangan ini dan menolongku,’ rutuknya lirih. “ Ini bagai pengadilan akhirat...”
Dia terjebak, terhukum  dalam dunia ‘rasa keakuannya yang paling murni’, sekaligus paling mati, kini.
Seara tidak terduga pula, tiba-tiba, kursi-kursi mimbar di depannya itu bergeser sendiri, membentuk barisan yang memojokkannya ke sudut ruangan. Kursi-kursi itu kosong, namun terasa ‘berisi’ permusuhan yang selama ini dia tanamkan ke pengikutnya kepada khalayak di luar mereka . “Kalian haram, berdosa, membawa mudharat besar,” fatwanya kepada jama’ah pada banyak kesempatan ceramahnya, “jika bermajelis, duduk-duduk bareng bersama orang-orang musyrik, ahli bid’ah dan sesat itu,” cetusnya mendelik ssambil menunjuk ke arah luar masjid.
Terdengar, api hitam itu menggeram,membisikkan kenyataan yang paling pahit,"Bahkan kamu pun, Kolid, tidak cukup suci untuk duduk di sini. Di dalam hatimu masih ada kesombongan, dan itu adalah bagian dari api. Inilah aku...!"

Ruangan itu pun menjadi majelis penghakiman bagi satu orang saja. Sebuah kesunyian yang menafikan segala sesuatu yang bernyawa.
Api hitam itu akhirnya mencapai Kolid. Tidak ada rasa panas membakar kulit, melainkan rasa dingin yang luar biasa, seolah jiwanya sedang dibekukan menjadi gumpalan hitam. Kursi mimbar terakhir di bawahnya hancur, menjadi abu kelam yang menyumbat tenggorokannya. Dia terjatuh, tersungkur di atas lantai selasar masjid yang tak memiliki ornamen, tak mempunyai lampu dan warna. Warnanya serba hitam dalam kegelapan. Dan, hening sunyi.
Dalam kegelapan mutlak itu, Kolid merasa dirinya tamat. Dia telah berhasil memisahkan diri dari seluruh dunia, dari ‘ahli bid’ah’, dari ‘ahli syirik’, fasik, hingga akhirnya dia terpisah dari kemanusiaannya sendiri. Dia sendirian dalam ‘kemurnian’ yang mati.
Namun, di titik nadir itu, saat egonya telah hancur menjadi debu bersama kursi-kursi kesombongannya, sebuah celah muncul.
Bukan dari langit, tapi dari bawah pintu masjid yang membeku itu. Sebuah suara sayup-sayup masuk. Bukan suara dalil yang diteriakkan dengan urat leher tegang, melainkan suara tetangganya yang dulu dia sesat-kafirkan—seorang tua pelantun syair salawat yang sedang menyenandungkan doa syukur dalam bahasa lokal yang sederhana.
Suara itu membawa setitik cahaya kuning yang hangat, kecil namun tak mampu diserap oleh api hitam.
Kolid menangis. Air matanya jatuh ke atas abu kelam, dan di mana air mata itu menyentuh lantai, api hitam itu padam. Dia menyadari bahwa selama ini dia membangun tembok, bukan jembatan. Dia menghafal teks, tapi melupakan Sang Pemilik Konteks.
Tragedi itu telah merenggut jubah kebesarannya, kursinya, dan otoritasnya. Dia kini hanya seorang lelaki kecil yang menggigil di tengah ruangan kosong yang hangus menghitam. Namun, di antara sisa abu itu, dia melihat tangannya sendiri kembali memiliki warna.
Da merangkak menuju pintu. Bukan sebagai ‘Ustadz yang Paling Benar’, melainkan sebagai seorang manusia yang baru saja belajar bahwa Tuhan terlalu luas untuk dipenjara dalam satu majelis ilmu. Pintu ilmu Islam terbuka luas, bahkan jika ada hikmah bermafaat dari seorang kafir pun wajib diterima. Lalu bagaimana banyak hikmah dari seorang ulama Islam yang melegenda dalam kitab Al Ihyau ‘Ulumiddin, misal, kitabnya difatwakan untuk dibaka? Untuk kali ini, pertama kali Kolid tidak melihat ‘ahli bid'ah’ cs—Dia hanya melihat sesama hamba yang sedang berjalan pulang ke haribaan Tuhan.
Kolid tidak ingat kapan tepatnya lampu masjid itu padam, lalu berubah menjadi serba hitam. Yang dia tahu, dia masih duduk di atas kursi mimbar yang megah itu, menghadap kumpulan jamaah. Wajah-wajah mereka rata menjadi sapuan warna abu-abu kelam. Dia baru saja menutup ceramahnya dengan kalimat yang keras—sebuah pagar yang dia bangun tinggi-tinggi untuk memisahkan ‘kita’ dan’mereka’. “Siapa yang tidak masuk, tidak mau menerima manhaj dan pemahaman kita,” serunya lantang dengan nada tegas, “maka mereka bukanlah fiqatun najiyah, golongan yang selamat!” lanjut seruannya dalam gelegar kesombongan.
Akan tetapi, kemudian hening dan tiada sahutan “aamiin” dari jamaahnya, yang muncul  lidah-lidah api hitam. Gelap. Lebih gelap dari bayangan mana pun yang pernah dia lihat. Api itu merayap di antara kaki-kaki kursi, seperti merambat, meliuk-liuk ke atas.Seperti sedang menghisap. Cahaya tiada. Dia mencoba bangkit, tapi terasa berat, seolah tubuhnya dirantai berbandul martil besi besar yang berkarat.
Dia mengerjap. Apakah aku sedang tertidur di atas mimbar?
Sesaat, dia merasa tubuhnya menyentuh kasur yang empuk di kamarnya. Dia bisa mencium bau parfum kasturi yang biasa dia pakai. Namun, ketika dia mencoba menarik nafas, yang masuk ke paru-parunya bukanlah udara kamar, melainkan serpihan abu kelam yang dingin. Dia membuka matanya seolah meyakinkan diri, dan api hitam itu benar-benar sudah sampai di hadapannya. Kursi mimbar yang didudukinya berderak, pecah bukan karena panas, tapi karena dia mendadak merasa kursinya menanggung beban yang sangat besar.” Beban apakah ini,” desisnya pedih.
"Ustadz... Ustadz Kolid?"
Suara itu terdengar jauh, seperti dari balik dinding air yang tebal. Dia tidak tahu apakah itu suara malaikat yang datang mengadilinya, atau suara istrinya yang mencoba membangunkannya dari mimpi buruk.
Dia melihat tangannya. Dalam kegelapan. Kulitnya mulai pecah-pecah, menyingkap warna abu-abu yang mati di baliknya. Saat dia mencoba menyentuh wajahnya sendiri untuk memastikan dia masih hidup, jemarinya hanya menemukan kekosongan. Kehampaan.
Lalu, bunyi gamelan itu masuk. Satu denting bonang yang sangat nyata, seolah alat musik itu dipukul tepat di sebelah telinganya.
"Ini hanya mimpi?" Dia berbisik lemah. Namun, saat dia mengatakannya, api hitam itu justru menjawab dengan jilatan yang paling dingin di lehernya, dan kursi mimbar yang ia agungkan itu pun runtuh, membawanya jatuh ke dalam lubang gelap yang tak punya dasar.
Di titik nadir itu, dia meringkuk di atas sisa mimbar yang telah menjadi gundukan abu dingin. Api hitam itu kini mengepungnya, tidak lagi menjilat, tapi berdiri diam seperti algojo yang menunggu perintah eksekusi.
 â€œInikah kemurnian yang kucari?” batinnya, getir. “Sebuah ruang tanpa suara, tanpa warna, hanya hitam dalam gelap, dan tanpa manusia lain? Aku telah berhasil membuang semua 'ahli bid'ah' dari hidupku, tapi mengapa kegelapan seakan hendak menelanku, hendak menghabisiku?”
Dia melihat tangannya gemetar. Di sana, dia melihat bayangan ribuan orang yang pernah dia tuduh ahli bid’ah, sesat, hanya karena mereka mencintai Tuhan dengan cara yang berbeda—dengan dawai, dengan tembang, dengan salawat, dengan yasin tahlil, dengan tahiyat akhir dan telunjuk yang tidak persis sama dengannya dlsb.
“Apakah hamba tidak sedang menjaga kemurnian agama-Mu, Ya Allah,” akunya dalam isak yang sesak. “Aku seperti hanya  sedang memuja diri serta jama’ahku sendiri di atas kursi jati ini. Aku menjadikan lisan-Mu dan lisan Nabi-Mu sebagai pedang untuk memenggal kepala saudaraku, agar aku bisa berdiri paling tinggi. Ini bagai metafor dulu leluhur kami di Arab sana memenggal kepala-kepala saudara muslimku di tanah Hijaz?”
Saat pengakuan itu terucap, air mata Kolid jatuh—bening dan berat. Begitu menyentuh lantai yang tertutup abu kelam, terjadi ledakan cahaya yang lembut. Bukan cahaya api yang menyilaukan, tapi cahaya kuning keemasan seperti sinar matahari pagi yang menembus celah dedaunan beringin di Bulaksumur.
Di tempat air mata itu mendarat, abu hitam itu perlahan bergolak. Bukannya menghilang, abu itu bertransformasi. Serpihan-serpihan kelam itu mulai menyusun diri menjadi helai-helai kelopak bunga melati dan mawar yang basah oleh embun. Bau gosong yang menyesakkan berganti dengan aroma tanah basah setelah hujan—aroma bumi yang selalu dia pijak itu jujur.
Api hitam yang tadinya tegak mengancam, perlahan meliuk dan berubah bentuk. Mereka tidak lagi berbentuk api, melainkan menjelma menjadi siluet kumpulan orang dalam majelis zikir dan salawat. Mereka kian nyata membentuk diri. Tidak membakar; mereka justru memayungi Kolid dengan gerak sikap yang penuh perlindungan.
Kursi mimbar yang hancur itu pun tidak kembali menjadi kayu kaku. Potongan-potongannya tumbuh menjadi akar-akar pohon besar yang kuat, seolah-olah bangunan beton itu kembali menjadi hutan yang menyatu dengan semesta.
 â€œEngkau tidak terbatas pada dinding masjid dan teks yang mati,” bisik Kolid pada dirinya sendiri, sambil menyentuh kelopak melati yang tumbuh dari abu di sekelilingnya. “Engkau ada di tiap tarikan napas makhluk-Mu, di tiap nada syukur yang tulus, bahkan yang tak sempat terucap dalam bahasa yang kau pahami. Tubuhmu adalah tubuh mereka juga yang sering kau  hujat, caci maki, bahkan fitnah. Jika kau menghujat, mencaci maki dan memfitnah mereka, sejatinya kau mmenghujat, mencaci maki dan memfitnah dirimu sendiri. Semua akan kembali kepadamu. Kau tau itu, Kolid?!”
“Astaghfirullah!” pekik Kolid terhenyak, Dia terbangun dari tidur dan mimpi buruknya. Dan dia tertegun pada bagian akhir-akhir mimpinya. “ Ada apakah ini?” tanyanaya pada diri sendiri. “Ada apa dengan diriku selama ini? Telah salahkan dengan seruan-seruanku? Ampumi hamba Yaa Allah. Aamiin.”

✍️Arto'Latief/010526
Cerpen ini berdasarkan mimpi nyata yang diimprovisasi. Terimakasih

Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Resonansi Kali Code
Resonansi Kali Code
30 Apr 2026 ¡ 41x
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
25 Apr 2026 ¡ 38x
Antara Bara dan Hidayah
Antara Bara dan Hidayah
24 Apr 2026 ¡ 20x
Pria Tua di Warkop Lik Seno
Pria Tua di Warkop Lik Seno
24 Apr 2026 ¡ 542x
Lidah Beracun
Lidah Beracun
23 Apr 2026 ¡ 39x
Pohon itu Tumbang
Pohon itu Tumbang
20 Apr 2026 ¡ 57x
Istana Cahaya untuk Mas Khum
Istana Cahaya untuk Mas Khum
17 Apr 2026 ¡ 93x
Warisan Sujud Makdhe
Warisan Sujud Makdhe
15 Apr 2026 ¡ 749x