Di atas Jembatan Kewek, Yogyakarta. Di trotoar Jl. Abu Bakar Ali, Harto berdiri mematung. Di bawahnya, arus air Kali Code mengular seperti urat nadi darah yang menyimpan rahasia hidup manusia.
Angin sore berhembus sepoi dari rerimbunan pohon dan taman di pemukiman elit Kotabaru. Kawasan yang dibangun mulai tahun 1917 hingga tahun 1920-an. Diperuntukkan sebagai kawasan hunian elit Eropa ( _Nieuwe Wijk_ ) dengan konsep garden city yang modern pada masanya. Awalnya direncanakan untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal warga Belanda. Kini, kawasan ini menjadi cagar budaya yang dikenal sebagai bangunan kolonial, tata kota rapi, dan pepohonan yang rindang di pusat Yogyakarta.
Dari pepohonan liar di tebing sungai bawah sana, terdengar cuit-siul burung-burung yang saling berkejar dan bersahutan. Sedang mencari tempat hinggap beristirahat yang jenak lagi aman. Mentari pun beranjak menuju peraduan.
Di tengah deru kereta api dan ramai sibuknya hari, karena orang-orang pulang kerja, Harto masih berdiri di atas Jembatan Kewek yang bersejarah itu. Dia berniat dari kampungnya, Pemalang sana, untuk melepas beban takdir sialnya (kebangkrutan tokonya) ke Kali Code. Sekaligus melepas rindu beribu haru.
Suasana mistis melingkupi jembatan tua peninggalan Belanda tersebut. Konon--percaya tidak boleh; tidak percaya lebih boleh haha-- ia dijaga oleh sesosok siluman ular dan Mbah Pujo. Juga memiliki sejarah panjang nan herois berkait Romo Mangunwijaya.
Harto merogoh saku jaketnya dengan pelahan, yang mulai lembap oleh embun sungai jelang petang. Tangannya menggenggam sebuah bungkusan kain putih kecil—berisi potongan kuku dan beberapa helai rambut. Dari dulu mula, dia sebenarnya tidak percaya tahayul dan khirafat. Namun dalam kekalutan, dia ingin mencobanya. Katanya itu dipercaya sebagai wadah segala kemalangan yang merundungnya setahun terakhir. Toko tutup, istri bukan lagi sekrup. Sementara itu di bawah kakinya, aliran Kali Code mulai gelap temaram permukaannya, namun masih bisa memantulkan cahaya lampu kota yang mulai pada menyala. Pantulannya di air Kali Code, pecah tertiup angin senja.
Kalangan orang tua sering berbisik, konon, Code bukan sekadar sungai. Di perut airnya bersemayam sosok siluman ular raksasa yang sesekali menampakkan diri dengan sisik berkilau seperti emas saat bulan sedang penuh. Belum lagi legenda tentang Mbah Pujo, sosok gaib yang dipercaya "menopang" pilar-pilar Jembatan Kewek agar tetap kokoh meski zaman berganti. Namun kini dia pun harus menyerah. Tidak lagi bisa berdaya. Struktur jembatan pada retak. Bagi Harto, membuang sesuatu di sini bukan sekadar membuang sampah, melainkan menitipkan beban pada penjaga arus agar dibawa sejauh mungkin ke Laut Selatan sana.
Tepat saat dia hendak mengayunkan tangan, membuang benda khurafat tadi, suara peluit kereta api menjerit melengking-lengking dari arah Stasiun Lempuyangan. Getaran hebat merambat dari rel besi ke beton jembatan, mengguncang pijakannya. Harto memejamkan mata. Dalam gemuruh mesin yang memekakkan telinga, dia membisikkan doa singkat, bismillah..., lalu ... Bungkusan itu tertahan, tidak jadi dibuang. Benda kecil itu masih di tangannya. Dia tersadar di saat-saat krusial keyakinannya. Dia harus merubah niatnya jika harus membuang bungkusan kain putih itu. Bahwa dia tidak sedang berimajinasi kalau bayangan hitam air Kali Code itu, seolah-olah memang sudah membuka mulutnya sejak tadi untuk menerima tumbal kesedihan akibat takdir kesialan..
Harto kemudian menyandarkan siku tangannya pada pagar besi jembatan yang terasa mulai berangsur dingin. Bungkusan kecil yang diambilnya tadi dari sakunya, dengan keyakinan kuat, urung dia lempar ke dalam sungai. DIa menyadari, nasib buruk usahanya—tumpukan hutang dan rak-rak buku yang kini kosong di tokonya, karena diambil para pemasok—tak akan hanyut begitu saja hanya dengan melempar potongan kuku dan rambutnya yang dibungkus dalam kain putih. Baginya, "sial" itu ada di kepala, di pikiran. Dan sore ini dia datang ke Jembatan Kewek untuk membasuhnya, membersihkannya, dengan pemandangan yang kontemplatif. Perenungan cobaan hidup secara reflektif.
Harto menunduk, menatap kerlap-kerlip lampu dari pemukiman padat di bantaran Kali Code. Rumah-rumah yang berhimpitan itu tampak seperti susunan lego yang rapuh namun gigih. Dia teringat mendiang Romo Mangun, sosok yang dulu menata kawasan itu. Beliau pernah dawuh, "Mereka mungkin hidup di atas tumpukan sampah kota, tapi mereka sendiri bukanlah sampah." Sungguh sebuah pengingat bahwa dari kerumitan dan kemiskinan pun, keindahan bisa diciptakan. Tidak selamanya sampah tetap jadi sampah. Ada saatnya ia jadi duit atau barang estetis mahal dlsb. "Kalau warga di bawah sana bisa bertahan hidup dalam ruang sesempit itu," gumamnya lirih, yang sama sekali tidak akan terdengar andai di sampingnya ada orang sekakipun, "masa aku harus menyerah karena satu toko yang tutup?" lanjut gumam lirihnya yang berbalut sedih menuju kesadaran jiwa baru yang biru. Damai.
Pandangannya beralih pada dinding jembatan yang dipenuhi mural, grafiti yang berwarna-warni—jejak-jejak ekspresi anak muda Jogja yang tumpang tindih. Ada estetika dalam kekacauan itu. Fondasi Kewek bukan sekadar beton tua; ia adalah titik temu. Di atasnya ada deru modernitas kereta api, mobil dan motor, di bawahnya ada denyut kehidupan rakyat jelata Dan di antaranya, Harto yang berdiri mencari sisa-sisa jiwa diri.
Bau khas air sungai dan aroma bakaran sampah dari kejauhan justru terasa menenangkan. Langit cerah, tiada lukisan awan. Di ufuk barat mulai nampak warna jingga senja. Dia memutuskan untuk tidak melempar bungkusannya ke sungai. Alih-alih, dia merogoh isi saku jaketnya—sebuah kartu nama tokonya yang terakhir terpegang—lalu mengeluarkannya slowly dan merobeknya pelan pula hingga menjadi serpihan sampah. Dibuang. Ditaburkan di atas sungai. Dia biarkan angin sore menerbangkan kertas-kertas itu seperti salju melayang di atas Kali Code. Itu bukan lagi buang sial, itu adalah perayaan atas sebuah akhir, sekaligus ruang untuk awal yang baru.
Harto terdiam, tangannya masih tertahan di pinggir pagar jembatan. Di dalam hatinya, terjadi perang dingin yang lebih riuh dari suara lokomotif kereta api yang baru saja lewat. Sebagai seorang Muslim, dia tahu ada garis tegas yang menyebut ritual seperti ini menuju syirik—menaruh harapan pada benda mati atau kekuatan gaib sungai. "Gusti Allah yang kasih ujian, kenapa aku malah minta tolong ke jin Kali Code?" batinnya menghakimi diri sendiri.
Namun, keputusasaan punya caranya sendiri untuk melumpuhkan logika. Bisikan-bisikan masa kecil tentang "sarat" dan "buang sial", dimana dulu bergaul erat karena ayahnya pernah tersesat dalam perdukunan, sebelum akhirnya bertaubat, mendadak muncul kembali ke permukaan saat akalnya mentok karena bangkrut. Dia merasa seperti seorang munafik; dahi yang sering bersujud itu kini justru tertunduk menatap air gelap, mencari sisa-sisa mitos yang dia harapkan bisa menjadi jalan pintas bagi penyelesaian beban cobaan hidupnya.
"Astaghfirullah," desisnya lirih, membiarkan angin sore menyapu wajahnya yang layu. Dia tersenyum getir, menyadari bahwa dia hanya manusia yang sedang ketakutan. Dia merenung, "Bukankah agama mengajarkan bahwa setelah kesulitan ada kemudahan?" Dalam ingatan cukup dalam, seorang guru ngajinya pernah berkata, "Ketika kau kehabisan uang, itu tandanya uang akan kembali datang." Mungkin "membuang sial" yang benar baginya sore ini bukanlah ritual fisik, melainkan membuang keraguan pada takdir-Nya. Tepat di atas jembatan yang menghubungkan masa lalu kolonial dan masa kini yang menyesakkan ini.
Harto menarik napas panjang, bagai helaan tarik nafas, dulu, ketika dia berlatih olah nafas Merpati Putih di lingkungan Gelanggang Mahasiswa Shalahuddin. "Ah, jadi teringat wanita bagai gadis Arab itu. Kulit putih bersih, _mbangir_ hidung, mata _hurrun 'ain_ : lebar, bercelak alami, putih bersih pada bagian putihnya, dan hitam pekat pada bagian iris korneanya serta alis bulan sabit," gumam hatinya. Dia membiarkan oksigen udara sore yang mulai basah memenuhi kerongkongan dan bermuara di paru-parunya. Dia menatap bungkusan di tangannya sekali lagi, lalu benar-benar membuangnya jauh ke dalam Kali Code sejauh-jauhnya, dengan me-reset niat ikhlasnya. Lega, dia.
"Membuang sial itu bukan soal melempar barang ke air, tempat yang katanya keramat," bisiknya pada diri sendiri, "tapi membuang berhala-berhala kecil di hati yang bikin aku ragu sama janji-Nya."
Dia merasa ironis. Berdiri di jembatan peninggalan Belanda yang masih kokoh meski sudah berumur seabad lebih, dia justru merasa dirinya lebih rapuh dari kayu lapuk yang luruh. Namun, pergolakan batin tadi justru menjernihkan pikiran serta imannya. Dia memandang Kali Code bukan lagi sebagai tempat pembuangan mistis, melainkan sebagai aliran rezeki yang terus mengalir bagi ribuan orang di bantarannya, bahkan seluruh kota. Jika sungai itu bisa menghidupi begitu banyak nyawa, bukankah Tuhan juga punya ribuan cara untuk menghidupinya kembali?
Harto pun melangkah meninggalkan pagar jembatan. Dia berjalan kaki menuju ke arah selatan, menyusuri trotoar yang mengarah ke arah Malioboro. Di bawah lampu jalan yang temaram, langkahnya terasa lebih ringan. Udara mulai terasa sejuk. Jiwanya bagai langit yang tidak berawan. Clear. Sialnya tidak hilang di sungai, tapi bebannya telah luruh di atas beton jembatan Kewek melalui sebuah perenungan. Kontemplasi suci.
Sore merambat ke malam, Jembatan Kewek tetap diam dengan segala mitosnya. Sementara Harto beranjak dari sana dengan sebuah keyakinan baru yang lebih kuat dari pilar jembatan Kewek.
Harto baru saja menuruni anak tangga jembatan, ketika aroma harum jahe bakar dan asap tipis bara arang menarik langkahnya ke sebuah angkringan sederhana di sisi jalan. Dia teringat kembali, dulu, saat mahasiswa, hampir tiap malam selepas belajar, berkongkow di angkringan depan RS Panti Rapih bersama teman mahasiswa Fisipol, dekat Bundaran UGM, Jl. Cik Di Tiro, Sagan. (Spill sedikit, sekarang dia menjadi konsultan politik di Jakarta).
Di angkringan dekat jembatan itu, seorang pria tua dengan topi lusuh sedang sibuk menata nasi kucing. Pria itu adalah Mbah Dirin, yang konon sudah berjualan di sana sejak jembatan itu masih sering dilewati trem uap.
"Usahanya sudah tutup ya, Mas?" tanya Mbah Dirin tiba-tiba. Suaranya parau namun ramah, tanpa mengalihkan pandangan dari gelas jahenya.
Harto tertegun. Dia merasa belum pernah bercerita pada siapa pun di sini. "Kok Simbah tahu?"
"Orang yang habis buang sial di jembatan Kewek itu cuma ada dua jenis, Mas," Mbah Dirin terkekeh kecil, seraya menyodorkan segelas jahe panas. "Satu, yang melempar barang karena benci masa lalunya. Dua, yang merenung lama seperti Mas tadi, karena sedang bertarung dengan masa depannya. Saya lihat Mas tadi tidak melempar apa-apa. Itu tandanya Mas masih punya harapan," terangnya bijak berhikmah.
Harto menyesap jahenya, membiarkan rasa hangat menjalar menyururi tenggorokan lalu ke dadanya. "Ya, usaha saya hancur, Mbah. Bubrah. Rak-rak display buku itu sekarang kosong. Saya kembalikan yang tersisa ke suplayer, pemasoknya. Saya merasa seperti pengecut yang lari ke jembatan ini." terang Harto, antara kelu dan pilu.
Mbah Dirin menunjuk ke arah aliran Kali Code di bawah sana yang tampak tenang namun konsisten, lalu berujar, "Mas lihat sungai itu? Tiap tahun kena banjir lahar dingin, dibrukin sampah, tapi dia tidak pernah berhenti mengalir. Begitu juga jembatan ini. Belanda bangun, Jepang lewat angkuh, gerbong kereta tiap hari menggilas punggungnya, tapi dia tetap berdiri. Bukan karena dia kuat, tapi karena dia tahu tugasnya cuma satu: menghubungkan orang dari satu sisi ke sisi lain."
Pria tua itu menatap Harto dalam-dalam. "Mas juga harus begitu. Toko buku itu cuma salah satu 'gerbong' takdir yang lewat. Kalau gerbongnya habis, bukan berarti jembatannya, tubuhmu itu, harus roboh, toh? Selama Mas masih berdiri di sini, Mas masih bisa jadi jembatan buat usaha yang lain. Gusti Allah tidak pernah sare , Mas. Dia cuma sedang minta Mas istirahat sebentar di Kewek ini sebelum jalan lagi."
Kalimat sederhana itu menghantam batin Harto, lebih keras dari bunyi peluit kereta api itu. Dia teringat akan pergolakan batinnya tadi; tentang keyakinannya yang sempat goyah oleh mitos. Kini, lewat perantara seorang penjual angkringan, juga kontemplasinya dia atas jembatan tadi, dia merasa mendapat jawaban yang lebih konkret daripada sekadar ritual buang sial.
Dirasa cukup nongkrong, Harto lalu membayar jahenya, bukan dengan sisa uang terakhir yang penuh kesedihan, tapi dengan senyum yang mulai tulus. Dia menyimpan kartu nama tokonya yang terselip di salah satu saku jaketnya, ke dalam dompet sebagai pengingat—bukan sebagai kenangan pahit, tapi sebagai bukti bahwa dia pernah berjuang. Puluhan tahun. Dari anak-anaknya masih balita hingga beranjak dewasa.
" Matur nuwun , Mbah," ucap Harto mantap.
Dia berjalan meninggalkan kawasan Jembatan Kewek dengan langkah kaki yang tak lagi goyah terseret. Tegap kokoh. Di sisi belakang sampingnya, kereta api eksekutif melintas cepat, meninggalkan Stasiun Lempuyangan. Lampunya menerangi rel besi sejenak sebelum kembali gelap, meninggalkan Harto yang kini tahu ke mana harus melangkah besok pagi.
Harto membatin, "Dialog Mbah Dirin mencerminkan semangat Mangayu Hayuning Bawono (memperindah keindahan dunia) yang menjadi semboyan Jogja, di mana manusia diajak untuk terus berproses meski dalam himpit kesulitan."
Langkah Harto senja itu tak lagi gontai. Pertemuannya dengan Mbah Dirin seolah menjadi penambah bahan bakar baru. Dia memutuskan untuk tidak langsung pulang, melainkan melakukan "ziarah intelektual" ke tempat-tempat yang dulu membentuk jati dirinya saat masih menjadi pemuda, mahasiswa di Jogja.
Harto memutuskan berjalan kaki menuju arah utara lalu berbelok ke timur, membelah kesunyian kawasan Kotabaru yang adem asri. Tujuan pertamanya adalah Penerbit dan Toko Buku Kanisius. Berdiri di depan gerbangnya yang tenang, dia teringat masa-masa kuliah dulu ketika dia rela menyisihkan uang makan demi membeli buku-buku filsafat dan sastra terbitannya.
"Kanisius masih tegak berdiri," bisiknya haru dalam kagum. Dia meraba pagar besinya yang dingin, seolah sedang menyerap ketangguhan sebuah institusi yang sudah bertahan puluhan tahun melewati krisis. Baginya, Kanisius adalah simbol integritas intelektual. Jika mereka bisa bertahan di tengah gempuran zaman digital, dia pun harus bisa menemukan cara baru untuk menghidupkan kembali mimpinya di dunia literasi. Me-replay momen saat dia sudah sempat masuk ke jajaran penulis nasional. Tulisan-tulisannya sudah dimuat media-media nasional. Namun nestapa, karena kemudian disibukkan aktifitas perusahaan, kreatifitas kepenulisannya memudar untuk kemudian benar-benar _modar_. Innalillah.
Tak jauh dari situ, langkahnya tertuju pada kemegahan Masjid Syuhada. Masjid dimana dulu dia digembleng ustadz-ustadz sejuk yang mengedepankan Persaudaraan Muslim, bukan permusuhan, yang membesar-besarkan perbedaan furu'; mengecilkan persamaan 'usul.
Di bawah sorot lampu jalan yang kuning temaram, menara masjid itu tampak seperti jari syahadat yang menunjuk ke langit—pengingat paling nyata bagi pertarungan batinnya di Jembatan Kewek tadi. Ia masuk ke pelataran masjid, menuju tempat wudhu, dilanjut bersujud sejenak di selasarnya yang tenang sejuk. Allahu Akbar!
Dalam sujudnya, dia menitipkan segala rasa lelah. Pasrah segala duka musibah. Jika di jembatan tadi dia masih ragu, di Syuhada dia merasa dipeluk kembali oleh keyakinannya. Didekap Tuhan. Dia teringat sejarah masjid itu. Diresmikan oleh Presiden Soekarno pada bulan kelahirannya, September 1952. Didirikan sebagai monumen peringatan untuk mengenang 21 pejuang yang gugur dalam Pertempuran Kotabaru melawan Jepang pada 7 Oktober 1945. Masjid ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang bernilai sejarah tinggi. Ia dibangun sebagai monumen perjuangan; sebuah pengingat bahwa kebangkitan, kemerdekaan selalu butuh pengorbanan dan fondasi iman yang kokoh. Begitupun hidup
Perjalanan nostalgia itu ia tutup di depan toko Gramedia yang megah di Jl. Sudirman. Meski toko itu sudah tutup, cahaya dari dalam etalase masih membiaskan deretan buku-buku best-seller. Harto berdiri di depan kaca besar itu, menatap bayangan dirinya sendiri yang bertumpang tindih dengan rak-rak buku di dalam. Hmm.
Dia tersenyum tipis. Dulu, dia adalah mahasiswa yang penuh ambisi, bermimpi punya toko buku sendiri. Jadi saudagar, seperti ayahnya yang saudagar padi dan beras yang cukup sukses: mampu menguliahkan lima anak laki-lakinya. Sekarang, meski tokonya telah tersungkur hancur, dia sadar bahwa ilmunya, kawruh urip tidak hilang. Kenangan masa kuliah di Jogja itu bukan sekadar romansa, nostalgia masa lalu, tapi bukti bahwa dia pernah memiliki semangat yang menyala-nyala. Healingnya ke pasar buku murah di Shopping Center. Berhimpit dengan Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, serta Monumen Serangan Umum 1 Maret.
"Jogja ini ruang kelas kuliah yang tidak pernah lulus, To," gumamnya menyemangati diri sendiri, "ia berkelanjutan memberimu ilmu dan hikmahnya," tukas batinnya. Dia kemudian membalikkan badan, meninggalkan Jl. Sudirman dengan tekad yang bulat melanjutkan kehidupan yang tetap bersemangat dan yakin pertolongan Tuhan. Da tidak akan menyerah pada kebangkrutan. Besok, dia akan mulai menyusun rencana baru, mungkin dengan konsep yang berbeda, namun dengan semangat yang sama seperti saat dia pertama kali menginjakkan kaki di kota Jogja sebagai mahasiswa dulu.
Terakhir, izinkan Harto berpuisi:
KALI CODE, AKU PULANG DULU...
Di barisan karat besi dan deru kereta yang berlalu,
kutitipkan perihku pada arus Kali Code yang bisu.
Ternyata sial bukan untuk dibuang ke sungai yang dalam,
tapi untuk dibasuh air suci dan sujud yang paling diam.
Jogja adalah bukan lagu KLA yang pasti akan usai dinyanyikan,
Bukan pula petikan gitar jalanan Malioboro dan cuit burung yang berkejaran.
Aku tak lagi mencari apa yang telah hilang,
karena di sini, di detak jantung kota ini, aku akhirnya ingin juga pulang.
Langkahku tak lagi berat, lukaku telah berubah menjadi sayap,
menjemput fajar yang merekah sumringah, memeluk takdir yang ada tetap.
✍️Arto'Latief/Pemalang, 290426
Inspirasi
Resonansi Kali Code
Terbaru di Inspirasi
Lihat semua →
Taubatnya Sang Ustadz
03 May 2026
· 18x
Elegi Penulis (Ed. Yogyakarta)
25 Apr 2026
· 38x
Antara Bara dan Hidayah
24 Apr 2026
· 20x
Pria Tua di Warkop Lik Seno
24 Apr 2026
· 542x
Lidah Beracun
23 Apr 2026
· 39x
Pohon itu Tumbang
20 Apr 2026
· 57x
Istana Cahaya untuk Mas Khum
17 Apr 2026
· 93x
Warisan Sujud Makdhe
15 Apr 2026
· 749x